SAMPANG, MaduraPost– Tepuk tangan panjang menggema di halaman Yayasan Al Arifin, Dusun Cangak, Desa Tamberu Barat, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang, saat nama Fatimatus Zahroh diumumkan sebagai salah satu lulusan terbaik SMA Al Arifin pada acara Purnawidya Tahun Ajaran 2025/2026.
Di balik senyum bahagia dan toga yang dikenakannya, tersimpan kisah panjang tentang kerja keras, pengorbanan, serta tekad yang tak pernah padam. Putri dari seorang tukang ojek itu membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita.
Kebahagiaan Fatimatus semakin lengkap setelah dinyatakan lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), sebuah capaian yang diraih melalui persaingan ketat bersama ribuan peserta dari berbagai daerah.
Namun, keberhasilan itu bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah.
Sejak masih duduk di bangku SMA, Fatimatus telah terbiasa menjalani hari-harinya dengan jadwal yang padat. Ketika sebagian besar teman sebayanya dapat menghabiskan waktu setelah sekolah untuk beristirahat atau belajar, ia justru harus membagi waktunya antara belajar dan bekerja.
Setelah pulang sekolah, Fatimatus membantu memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berjualan kue. Tidak hanya itu, ia juga bekerja kepada orang lain dengan sistem gaji bulanan. Penghasilan dari pekerjaan tersebut digunakannya untuk memenuhi berbagai kebutuhan pendidikan, mulai dari membeli perlengkapan sekolah, biaya transportasi, hingga kebutuhan belajar lainnya.
Baginya, bekerja bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru dari pekerjaan itulah ia belajar arti tanggung jawab, disiplin, dan menghargai setiap rupiah yang diperoleh melalui keringat sendiri.
Setiap pagi ia berangkat ke sekolah dengan semangat yang sama seperti siswa lainnya. Seusai kegiatan belajar mengajar, ia kembali menjalankan pekerjaannya hingga sore bahkan terkadang menjelang malam. Setelah semua aktivitas selesai, ia masih menyempatkan diri membuka buku pelajaran dan mempersiapkan diri menghadapi ujian maupun seleksi masuk perguruan tinggi.
Rutinitas itu dijalaninya selama bertahun-tahun tanpa pernah mengeluh.