SUMENEP, MaduraPost - Keterbatasan sarana melaut masih menjadi tantangan bagi nelayan di wilayah kepulauan. Di Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dukungan peralatan dari SKK Migas-Kangean Energy Indonesia (KEI) diharapkan bisa membantu nelayan menjaga produktivitas sekaligus memperkuat pendapatan keluarga.
Melalui Program MANDALA (Mandiri untuk Perikanan Tangkap dan Budidaya), perusahaan menyalurkan bantuan kepada nelayan di lima desa pada 2026. Bentuknya beragam, mulai dari sampan fiber hingga mesin tempel dan perlengkapan penangkapan ikan.
Desa Sabuntan menjadi salah satu penerima bantuan dengan alokasi mesin tempel untuk 84 nelayan. Berikutnya, 52 nelayan di Pagerungan Kecil dan 37 nelayan di Paliat juga menerima mesin tempel. Sementara di Sadulang, sebanyak 22 unit sampan fiber diberikan kepada nelayan kurang mampu.
Adapun nelayan di Desa Sapeken memperoleh empat unit bantuan beserta sarana alat tangkap.
Program tersebut merupakan bagian dari agenda Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) 2026 di sekitar wilayah operasi produksi KEI di Pagerungan. Melalui dukungan itu, kebutuhan sarana kerja nelayan menjadi salah satu sasaran pemberdayaan masyarakat di kawasan kepulauan.
Sekretaris Desa Sadulang, Bustamil Arifin, menyebut bantuan tersebut bukan kali pertama diterima masyarakatnya. Ia menilai dukungan perusahaan telah memberikan manfaat bagi warga yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas menangkap ikan.
"Kita sudah mendapatkan banyak dampak dengan dukungan nelayan dari SKK Migas-KEI ini, karena sebelumnya juga telah direalisaikan program untuk nelayan. Saya minta sampan dirawat dengan baik, dan kita harap bisa berkelanjutan," ujarnya, Jumat (9/10).
Bagi Faisal, nelayan asal Pulau Salarangan, Desa Sadulang, kehadiran sampan fiber menjadi bantuan yang patut disyukuri. Ia membandingkan fasilitas tersebut dengan sampan kayu yang biasa digunakan untuk bekerja di laut.
“Tentu bersyukur pak, karena sampan fiber ini bias bertahan lebih lama kualitasnya dari pada sampan kayu yang biasa kamu pakai,” ungkapnya.
Di sisi lain, keberlanjutan program juga menjadi perhatian pemerintah setempat. Kepala Desa Pagerungan Kecil, Halilurahman, meminta warga menggunakan mesin tempel sesuai tujuan pemberian bantuan. Peralatan tersebut diharapkan dapat menunjang pekerjaan nelayan dan dijaga agar manfaatnya berlangsung lebih lama.
Ia juga mengajak masyarakat menjaga hubungan baik dengan KEI. Menurutnya, keberhasilan kegiatan perusahaan di wilayah tersebut diharapkan turut memberikan dampak positif bagi warga sekitar.
“Dengan realisasi program ini, maka menjadi penting untuk selalu kita dukung peningkatan usaha SKK Migas-KEI di wilayah kita, karena kalua mereka berhasil, maka kita juga akan mendapatkan dampaknya,” tuturnya.
Camat Sapeken, Hamka, menempatkan pengawasan sebagai bagian penting setelah bantuan diserahkan. Ia mengatakan, pemerintah kecamatan ikut memantau pelaksanaan program agar dukungan yang diberikan sesuai kebutuhan masyarakat dan sampai kepada pihak yang berhak menerima.
“Saya ikut secara langsung merealisasikan, sehingga saya ngecek agar program ini juga tepat dihadapan masyarakat selaku penerima manfaat,” kata Hamka.
Hamka meminta pemerintah desa tidak melepas begitu saja bantuan yang telah diterima warganya. Pemantauan diperlukan agar peralatan tetap digunakan, dirawat, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi usaha perikanan.
“Kemarin saya sudah sampaikan ke para PEMDES agar sarana dukungan untuk nelayan ini harus dipantau, agar bermanfaat dan berkelanjutan, supaya mereka juga paham bahwa program ini bentuk kolaborasi Pemkab Sumenep dengan SKK Migas-KEI, untuk membantu nelayan,” tukas Camat Sapeken.
Manager Public & Government Affair (PGA) KEI, Kampoi Naibaho mengatakan, masyarakat nelayan merupakan mitra strategis di sekitar wilayah operasi produksi perusahaan.
Karena itu, dukungan terhadap usaha perikanan menjadi salah satu bentuk keterlibatan KEI dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
“Program Mandala ini kami upayakan untuk tetap optimis mendukung peningkatan pendapatan nelayan. Untuk itu, kolaborasi ini tetap berjalan dan saling mendukung,” tukasnya.
Program MANDALA masuk dalam rangkaian PPM KEI tahun 2026. Ke depan, manfaat bantuan tersebut akan sangat bergantung pada pemanfaatan oleh nelayan serta pengawasan pemerintah desa, sehingga sarana yang disalurkan tidak sekadar menjadi bantuan sesaat, tetapi benar-benar mendukung kegiatan ekonomi masyarakat Sapeken.***