Faidi menegaskan, persoalan tersebut akan menjadi bahan evaluasi. Ia juga menyebut dirinya bersama beberapa anggota panitia tidak memperoleh tempat duduk selama kegiatan berlangsung.
Selain soal konsumsi, Faidi menanggapi informasi mengenai amplop undangan yang disebut kosong meski penerimanya telah mengikuti proses tanda tangan. Ia mengakui adanya kekeliruan dalam pengisian amplop dan menyatakan persoalan itu telah ditangani.
“Kalau untuk yang kosong sudah terkonfirmasi semalam dan sudah ditransfer. Mungkin ketledoran, namanya kosong itu kalau satu atau dua, sementara yang lainnya terisi, berarti ketledoran,” ujarnya.
Terkait nominal Rp175 ribu yang diterima peserta, Ali menjelaskan angka tersebut merupakan gabungan uang transportasi sebesar Rp100 ribu dan biaya konsumsi Rp75 ribu.
Ia menyatakan pembiayaan kegiatan bukan berasal dari dana bantuan politik (banpol) maupun dana pemerintah lainnya, melainkan dari sumbangan di luar dana banpol. Menurutnya, dana itu merupakan bentuk pertanggungjawaban pribadi panitia kepada DPC PKB Sumenep.
“Transport Rp100.000 dan Rp75.000 itu untuk biaya konsumsi. Anggaran ini bukan menggunakan dana Banpol atau dana apa pun, melainkan dari sumbangan di luar dana Banpol,” jelasnya.
Faidi menyampaikan permohonan maaf kepada undangan yang merasa tidak mendapatkan pelayanan secara maksimal. Ia memastikan berbagai kekurangan selama acara akan menjadi bahan evaluasi panitia.
“Kami akan mengevaluasi seluruh kekurangan yang kami temui di lapangan. Sedikit pun dari kami tidak ada niat untuk membedakan yang terlalu jauh antara undangan satu dan undangan lainnya,” tukasnya.***