Begitulah pertemanan kadang bekerja. Ia tidak selalu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjadi berarti. Kadang, ia tumbuh dari pertemuan-pertemuan sederhana, percakapan di sela pekerjaan, secangkir kopi, makan bersama, lalu tiba-tiba kita sadar bahwa seseorang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.
Bambang pergi menjalankan tugas baru. Saya tetap di sini, dengan pekerjaan dan cerita-cerita yang terus berjalan.
Barangkali setelah ini kami tidak lagi sesering bertemu. Tidak ada lagi kemungkinan bertemu secara spontan karena kebetulan sedang berada di tempat yang sama. Jumat mungkin tetap menjadi hari ketika ia pulang ke Jember, tetapi kini ada jarak lain yang harus ditempuh, Lumajang.
Namun, persahabatan tidak selalu membutuhkan kedekatan jarak. Ada orang-orang yang cukup sekali hadir dengan baik, lalu namanya tinggal lama dalam ingatan.
Bambang adalah salah satunya. Sebagai seorang jurnalis, saya terbiasa mencatat banyak hal. Nama, tanggal, tempat, peristiwa, pernyataan, dan berbagai kejadian yang kelak menjadi berita.
Tetapi ada catatan yang tidak pernah masuk halaman berita. Catatan tentang seorang rekan kerja yang kemudian menjadi sahabat.
Tentang sebuah ajakan makan yang awalnya saya kira biasa saja. Tentang sebuah kalimat pamit yang datang tanpa aba-aba. Dan tentang sebuah foto yang baru saya sadari kemudian, ini adalah foto terakhir kami bersama.
Selamat bertugas di Lumajang, Mas Pinca. Terima kasih pernah menjadi bagian dari cerita saya di Sumenep. Semoga perjalanan berikutnya membawa lebih banyak kebaikan.***