FEATURES, MaduraPost - Ada pertemuan yang kita tahu akan berakhir. Ada pula perpisahan yang baru kita sadari setelah semuanya benar-benar terjadi.

Hari itu, saya diajak makan oleh Bambang Eko Budi Prakoso. Bagi saya, Bambang bukan sekadar seorang Pemimpin Bank Jatim Cabang Sumenep. Jauh sebelum saya menganggapnya sebagai sahabat, ia adalah rekan kerja.

Dari hubungan yang awalnya sebatas urusan pekerjaan, perlahan tumbuh percakapan-percakapan yang lebih jauh dari meja kerja. Tentang pekerjaan, kehidupan, kampung halaman, sampai hal-hal kecil yang sering kali justru membuat sebuah pertemanan terasa dekat.

Bambang adalah orang Jember. Setiap akhir pekan, Jumat biasanya menjadi waktunya pulang ke kampung halaman. Karena itu, ketika hari itu ia mengajak makan, saya tidak pernah membayangkan ada sesuatu yang istimewa di balik ajakan tersebut.

Kami makan sambil berbincang cukup panjang. Tidak ada suasana yang membuat saya curiga bahwa pertemuan itu akan menjadi sebuah kenangan. Semuanya berjalan seperti biasa. Sampai kemudian, di sela percakapan, Bambang menyampaikan sesuatu yang membuat saya berhenti sejenak.

"Saya mohon pamit, Mas," kata Bambang, 9 September pagi menjelang siang.

Saya sempat tertegun. Dalam pikiran saya, mungkin ia hendak mengambil cuti. Atau sekadar pulang ke Jember seperti biasanya. Tetapi ternyata bukan itu.

Ia dipindahtugaskan. Tepat satu tahun setelah menjalankan tugas sebagai Pemimpin Bank Jatim Cabang Sumenep, Bambang harus melanjutkan pengabdiannya di Lumajang. Bulan ini pula ia meninggalkan Sumenep untuk menempati tugas barunya.

Saya mendengarkan penjelasannya. Sesekali percakapan kembali mengalir, tetapi bagi saya suasananya sudah berbeda.

Ada rasa kehilangan yang datang diam-diam. Bukan karena seorang pejabat meninggalkan sebuah jabatan. Jabatan memang memiliki waktunya sendiri. Datang dan pergi adalah bagian dari perjalanan seorang profesional.

Yang terasa berbeda adalah ketika seseorang yang selama ini kita kenal sebagai rekan kerja, kemudian tumbuh menjadi sahabat, tiba-tiba harus melanjutkan perjalanan ke tempat lain.

Saya kemudian menyadari satu hal sederhana: ternyata kita sering tidak tahu kapan sebuah pertemuan akan menjadi pertemuan terakhir.

Hari itu kami makan bersama. Kami berbincang. Kami tertawa. Dan tanpa saya sadari, saya sedang menyimpan satu pertemuan terakhir bersama seorang sahabat yang selama setahun terakhir menjadi bagian dari cerita saya di Sumenep.

Foto ini pun menjadi foto terakhir kami bersama. Bukan foto yang dibuat untuk mengabadikan perpisahan. Tidak ada persiapan khusus. Tidak ada kalimat, "Ini foto terakhir kita."

Ia hanya sebuah foto sederhana setelah makan. Namun, setelah tahu bahwa Bambang harus pindah tugas, foto itu memiliki cerita yang berbeda.

Kelak, mungkin ketika melihatnya kembali, saya tidak akan terlalu mengingat apa yang ada di atas meja makan. Saya mungkin lebih ingat percakapan panjang kami pagi menjelang siang itu.

Saya juga akan mengingat kalimat pendek yang sempat membuat saya tertegun:

"Saya mohon pamit, Mas."

Begitulah pertemanan kadang bekerja. Ia tidak selalu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjadi berarti. Kadang, ia tumbuh dari pertemuan-pertemuan sederhana, percakapan di sela pekerjaan, secangkir kopi, makan bersama, lalu tiba-tiba kita sadar bahwa seseorang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.

Bambang pergi menjalankan tugas baru. Saya tetap di sini, dengan pekerjaan dan cerita-cerita yang terus berjalan.

Barangkali setelah ini kami tidak lagi sesering bertemu. Tidak ada lagi kemungkinan bertemu secara spontan karena kebetulan sedang berada di tempat yang sama. Jumat mungkin tetap menjadi hari ketika ia pulang ke Jember, tetapi kini ada jarak lain yang harus ditempuh, Lumajang.

Namun, persahabatan tidak selalu membutuhkan kedekatan jarak. Ada orang-orang yang cukup sekali hadir dengan baik, lalu namanya tinggal lama dalam ingatan.

Bambang adalah salah satunya. Sebagai seorang jurnalis, saya terbiasa mencatat banyak hal. Nama, tanggal, tempat, peristiwa, pernyataan, dan berbagai kejadian yang kelak menjadi berita.

Tetapi ada catatan yang tidak pernah masuk halaman berita. Catatan tentang seorang rekan kerja yang kemudian menjadi sahabat.

Tentang sebuah ajakan makan yang awalnya saya kira biasa saja. Tentang sebuah kalimat pamit yang datang tanpa aba-aba. Dan tentang sebuah foto yang baru saya sadari kemudian, ini adalah foto terakhir kami bersama.

Selamat bertugas di Lumajang, Mas Pinca. Terima kasih pernah menjadi bagian dari cerita saya di Sumenep. Semoga perjalanan berikutnya membawa lebih banyak kebaikan.***