"Andaikan dari awal ngomong ke saya, misal, Pak ini mobil saya tidak muat, gimana kalau saya sewakan mobil lain tapi bapak nambah uang, nggak ada masalah andai ngomong begitu sedari awal," ujarnya.

Menurut Madani, dirinya sebenarnya memiliki mobil pikap yang dapat digunakan untuk mengambil barang tersebut. Namun, ia memilih menggunakan jasa pengiriman karena alamat tujuan yang dicantumkan adalah rumahnya.

Ia menegaskan, persoalan utama bukan semata soal tambahan biaya, melainkan cara komunikasi kurir yang menurutnya kurang baik.

"Permasalahannya, dia (kurir J&T Cargo, red) membanding-bandingkan barang saya karena banyak, barang saya karena gede, kemudian dibanding-bandingkan dengan paket lain, kalau mengantar ke rumah saya itu hanya dapat komisi dari pekerjaannya Rp1 ribu rupiah dengan mengantar paket milik orang lain sekecil apapun itu. Itu yang sangat saya kecewakan," katanya memaparkan.

Madani kemudian meminta pihak J&T Cargo, baik di Sumenep maupun tingkat pusat, mengevaluasi persoalan tersebut.

"Saya meminta kepada J&T Cargo dari Sumenep hingga pusat, pecat aja kurir semacam itu, cara komunikasinya nggak baik," tegasnya.

Ia juga berharap perusahaan memiliki armada yang sesuai untuk mengangkut barang berukuran besar. Menurutnya, kendaraan seperti Toyota Innova merupakan kendaraan penumpang dan tidak ideal digunakan untuk mengangkut barang tertentu, seperti kulkas.

"Saya berharap juga, J&T Cargo agar memiliki mobil yang sesuai untuk mengangkut barang. Kalau mobilnya Innova, itu bukan mobil barang, itu mobil penumpang, jadi jangan salah tempat," ujarnya.

Madani mengaku tidak mempermasalahkan apabila perusahaan mengalami kendala teknis dalam proses pengiriman. Ia hanya meminta barang yang telah dibayar untuk dikirim sampai ke alamat tujuan dengan kondisi baik.