SUMENEP, MaduraPost - Tantangan pendidikan di wilayah kepulauan tak cukup dijawab dengan penyampaian materi di ruang kelas. Guru juga dituntut mampu mengembangkan metode belajar yang dekat dengan kehidupan siswa, sekaligus mengikuti perkembangan teknologi pendidikan.
Kebutuhan tersebut menjadi salah satu fokus pelatihan bagi guru non-PNS dari Pagerungan Besar dan Pagerungan Kecil, Kecamatan Sapeken, Sumenep.
Kegiatan yang berlangsung pada 13-15 Oktober 2026 itu diselenggarakan SKK Migas-Kangean Energy Indonesia (KEI) melalui Program GEMILANG atau Gerakan Meningkatkan Ilmu dan Keterampilan Guru.
Program tersebut merupakan bagian dari agenda Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) SKK Migas-KEI Tahun 2026.
Dalam pelaksanaannya, guru diperkenalkan pada pengembangan bahan pembelajaran yang menggabungkan pemanfaatan teknologi dengan realitas sosial dan budaya di lingkungan tempat siswa tinggal.
Dosen Universitas PGRI Sumenep, Syaiful Bahri, menjelaskan bahwa pendekatan etnopedagogi dapat membantu guru menyampaikan pelajaran melalui contoh yang sesuai dengan keseharian peserta didik.
Dengan begitu, materi diharapkan lebih mudah dipahami karena memiliki hubungan langsung dengan pengalaman siswa.
"Harapannya, guru dapat menerapkan explaining building the context, sehingga memberikan pemahaman sesuai dengan konteksnya," ujar Syaiful, Sabtu (17/10).
Para peserta juga mempelajari penyusunan rancangan pembelajaran, mulai dari pembuatan modul ajar atau RPM hingga tahap penilaian hasil belajar. Materi itu diarahkan untuk memperkuat kemampuan guru dalam merancang proses pembelajaran yang lebih terstruktur.
Syaiful menilai penguasaan dasar teknologi pembelajaran perlu diperkuat agar pendidik tidak tertinggal dalam menghadapi perubahan dunia pendidikan.
"Para guru butuh treatment untuk mendapatkan fundamental knowledge tentang digitalisasi pembelajaran," katanya.
Misbahus Zaman, guru SMAI Hubaibah yang mengikuti kegiatan tersebut, berharap pelatihan serupa tidak hanya dilaksanakan sekali. Menurutnya, peningkatan kapasitas pendidik masih diperlukan agar kualitas pembelajaran di wilayah kepulauan terus berkembang.
"Semoga ke depan kegiatan ini terus dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru di kepulauan," ujarnya.
Dukungan terhadap peningkatan kompetensi guru juga disertai tuntutan agar program memiliki keberlanjutan. Tenaga Ahli Bupati Sumenep, Prof. Mohammad Ali Al-Humaidy, mengingatkan bahwa kegiatan pengembangan sumber daya manusia perlu menghasilkan perubahan nyata, bukan sekadar memenuhi agenda program.
"Harapan kami, kegiatan ini tidak semata-mata seremonial, namun benar-benar ditindaklanjuti dengan program-program yang lebih konkret," katanya.
Ia mendorong adanya diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD) setelah pelatihan. Forum tersebut dapat digunakan untuk menggali persoalan yang dihadapi guru di lapangan, kemudian menyusun langkah penyelesaian bersama masyarakat.
Usulan penguatan program juga datang dari Kepala Kantor Kementerian Agama Sumenep, Abd. Wasid. Ia menilai peningkatan kemampuan pendidik merupakan bagian penting dalam mempersiapkan generasi yang lebih baik.
Wasid turut mendorong pengembangan pelatihan ke arah pembuatan media pembelajaran digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI, seiring perubahan kebutuhan pendidikan.
"Ini adalah kebutuhan guru terkini. Ini bisa terus dilanjutkan," ujarnya.
Dengan kebutuhan teknologi yang terus berkembang dan tantangan geografis yang dihadapi sekolah-sekolah kepulauan, keberhasilan program semacam ini pada akhirnya akan ditentukan oleh penerapannya.
Penguatan keterampilan, evaluasi, serta pendampingan berkelanjutan menjadi pekerjaan berikutnya agar manfaat pelatihan dapat dirasakan langsung oleh guru dan siswa.***