Pihak rumah sakit juga tetap memiliki ruang untuk menyampaikan klarifikasi atas seluruh pertanyaan yang berkembang.

Di sisi lain, pemerintah daerah melalui Dinkes P2KB Sumenep telah menyatakan akan melakukan pengecekan ke rumah sakit. DPRD Sumenep juga berencana memanggil direktur rumah sakit dan kepala dinas kesehatan untuk meminta penjelasan mengenai kasus tersebut.

Dengan demikian, persoalan ini tidak semestinya berhenti pada polemik antara keluarga dan rumah sakit. Perlu ada pemeriksaan yang jelas, penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan tindak lanjut sesuai ketentuan.

Pada ulang tahunnya yang ke-64, nama MH Said Abdullah kembali hadir dalam pemberitaan mengenai RS BHC. Publik tentu tidak sedang meminta Said menjawab persoalan medis yang menjadi kewenangan tenaga kesehatan dan manajemen rumah sakit.

Namun, keterkaitan Said dengan RS BHC dan informasi mengenai pemanggilan manajemen oleh dirinya membuat pertanyaan tentang kepemimpinan, keterbukaan, dan tanggung jawab pengelolaan rumah sakit semakin relevan untuk dijelaskan.

Satu hal yang kini dinantikan keluarga Dani dan masyarakat Sumenep, kapan manajemen RS BHC memberikan jawaban yang utuh atas kematian pasien tersebut?.***