Hendra juga menempatkan konektivitas sebagai faktor penentu perkembangan kawasan industri di Jawa Timur.

Kehadiran layanan bus Trans Jatim, menurut dia, menjadi salah satu instrumen yang dapat memperkuat hubungan antarkota, memudahkan mobilitas masyarakat, serta menunjang distribusi barang dan aktivitas ekonomi.

"Konektivitas antarkota memiliki peran strategis dalam mendukung mobilitas masyarakat dan memperkuat hubungan antar-pusat kegiatan ekonomi," ujar Hendra.

Sejumlah daerah, seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Pasuruan, hingga Malang, dinilai memiliki peluang berkembang lebih cepat apabila didukung jaringan transportasi dan infrastruktur yang saling terhubung.

Sementara itu, Madiun berpeluang mengambil peran sebagai pusat pertumbuhan industri baru di wilayah barat Jawa Timur.

Peluang tersebut sejalan dengan potensi masuknya investasi yang dapat mendorong aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

Pandangan serupa disampaikan aktivis Gerakan Masyarakat Madani, Anton Cahyono. Ia menilai arah pembangunan nasional melalui program Asta Cita masih berada pada jalur yang tepat, terutama dalam upaya memperkuat hilirisasi dan membangun industri nasional.

Anton menyebut komitmen pemerintah dalam mengembangkan sektor pengolahan sumber daya alam mulai memperlihatkan hasil. Dampak yang diharapkan tidak hanya berupa penguatan struktur ekonomi, tetapi juga terciptanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

“Kita harus percaya pada pemerintahan Prabowo yang sejauh ini sudah di lintasan dan berkonsentrasi penuh dalam mengembangkan proses hilirisasi dan masa depan industri Indonesia. Dan ini sudah terlihat hasil kerja beliau selama ini," kata Anton.