Meski mendukung arah kebijakan tersebut, Anton mengingatkan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak bisa dilepaskan dari tata kelola sumber daya alam dan kesiapan sumber daya manusia (SDM).
Menurut dia, pembangunan industri pengolahan harus dirancang secara tepat agar Indonesia tidak terus bergantung pada penjualan bahan mentah.
Penguatan kemampuan tenaga kerja lokal juga diperlukan supaya masyarakat memiliki kesempatan mengambil bagian dalam pertumbuhan industri.
"Dengan pengembangan industri yang tepat, kekayaan alam Indonesia tidak hanya menjadi komoditas mentah, tetapi mampu menciptakan manfaat ekonomi yang lebih besar dan memperluas lapangan kerja," tegas Anton.
Anton menambahkan, evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pembangunan.
Evaluasi tersebut bukan sekadar mencari kelemahan pemerintah, melainkan mendorong kritik yang konstruktif sekaligus menawarkan solusi bagi keberlanjutan kebijakan nasional.
Dengan demikian, tantangan hilirisasi di Jawa Timur bukan hanya memperbesar kapasitas industri, melainkan memastikan konektivitas, investasi, pengelolaan sumber daya alam, dan pengembangan tenaga kerja berjalan beriringan.
Ukuran keberhasilannya terletak pada sejauh mana pertumbuhan industri mampu menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat.***