SUMENEP, MaduraPost - Beragam cara dilakukan untuk memeriahkan Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Salah satunya melalui persembahan lagu tradisional Madura oleh para hafiz-hafizah Sekolah Dasar Tahfidz dan Tahsin Qur'an (SDT2Q) Insan Permata Mulia Sumenep.
Dalam momentum hari jadi tersebut, para siswa kelas IV membawakan lagu daerah berjudul Wa’ Ronjhangan. Persembahan itu dikemas dalam bentuk video dengan mengambil latar Museum Keraton Agung Sumenep, salah satu bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
Kepala SDT2Q Insan Permata Mulia Sumenep, Iftikhar Ali, menyampaikan bahwa keikutsertaan sekolah dalam memeriahkan hari jadi kabupaten merupakan salah satu bentuk kontribusi dunia pendidikan dalam mengenalkan kekayaan budaya daerah.
Menurutnya, peringatan hari jadi tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan sejarah Sumenep, tetapi juga kesempatan menanamkan kecintaan terhadap daerah kepada generasi muda.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak anak-anak ikut menyemarakkan Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep dengan cara yang edukatif. Mereka tidak hanya mengenal budaya daerah, tetapi juga terlibat langsung dalam upaya menjaga dan melestarikannya," ungkap Iftikhar Ali, Sabtu (31/10).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kokurikuler sekolah yang mengangkat tema kearifan lokal.
Kokurikuler sendiri merupakan kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk memperkuat, memperdalam, dan memperkaya pembelajaran intrakurikuler sekaligus mengembangkan karakter serta kompetensi peserta didik.
Sebanyak 18 siswa kelas IV terlibat dalam kegiatan tersebut, didukung enam orang yang tergabung dalam tim kelas.
Wali kelas IV, Ustazah Yuli Mariyatur Rahmah, yang akrab disapa Ustazah Yuli, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan untuk menyemarakkan hari jadi kabupaten, tetapi juga menjadi sarana mengenalkan kekayaan budaya Madura kepada anak-anak.
Menurutnya, pengenalan lagu daerah sejak dini penting untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air. Dengan begitu, generasi muda tidak hanya mengenal budaya melalui cerita atau buku pelajaran, tetapi juga ikut mempraktikkannya.
"Tujuannya untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan mengenalkan lagu daerah sejak dini," ujar Ustazah Yuli.
Dia mengaku senang melihat keterlibatan para siswa dalam kegiatan tersebut. Terlebih, mereka dapat menyanyikan langsung lagu tradisional Madura di kawasan Museum Keraton Agung Sumenep.
Menurut Ustazah Yuli, pengalaman itu memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk lebih dekat dengan warisan budaya daerah yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sumenep.
Adapun lagu Wa’ Ronjhangan menggambarkan kehidupan masyarakat Madura yang sederhana, akrab, dan menjunjung tinggi kebersamaan.
Lirik serta iramanya menyampaikan pesan tentang persaudaraan, kerukunan, saling membantu, dan pentingnya menjaga tradisi.
Program kokurikuler bertema kearifan lokal tersebut dilaksanakan dua kali dalam setahun. Sekolah berharap kegiatan serupa dapat terus menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengenal sekaligus ikut melestarikan kebudayaan daerah.
"Harapannya semakin banyak lagu daerah yang dikenal dan dilestarikan di semua kelas, sekolah, dan masyarakat umum. Karena lagu daerah itu keren," tuturnya.
Melalui persembahan Wa’ Ronjhangan, para siswa turut memeriahkan Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep dengan cara yang edukatif sekaligus mengajak generasi muda untuk tidak melupakan kekayaan budaya daerahnya.
Diketahui, Kabupaten Sumenep memperingati Hari Jadi ke-757 pada 31 Oktober 2026, berdasarkan tanggal berdirinya 31 Oktober 1269.
Peringatan tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan dan kebijakan daerah yang melibatkan pemerintah serta masyarakat.
Rangkaian peringatan tersebut di antaranya penggunaan baju adat pada 29-31 Oktober 2026. Pelajar di wilayah Sumenep juga diimbau mengenakan batik khas daerah.
Selain itu, terdapat gerakan spiritual berupa doa bersama dan pembacaan Surat Al-Waqi'ah secara massal yang digabungkan dengan momentum Hari Santri Nasional 2026.
Pemerintah daerah juga menggelar Haul Raja-Raja Madura sebagai sarana refleksi sejarah panjang kepemimpinan dan perjuangan para raja terdahulu dalam membangun fondasi Sumenep.
Rangkaian perayaan turut dimeriahkan festival dan pertunjukan seni budaya, di antaranya Festival Musik Tongtong se-Madura yang dipadukan dengan pementasan Prosesi Arya Wiraraja.***