SUMENEP, MaduraPost - Penanganan kasus kematian Moh. Firman Ramadhani alias Dani (22), santri Annuqayah Guluk-guluk di RS Baghraf Health Care (BHC) Sumenep, Madura, Jawa Timur, kembali menemui jalan buntu.

Memasuki pekan ketiga sejak pasien BPJS tersebut meninggal dunia, rumah sakit belum memberikan perkembangan yang dijanjikan kepada DPRD, sementara Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep belum memastikan pembentukan tim evaluasi.

Ketua Komisi IV DPRD Sumenep, Mulyadi mengungkapkan, bahwa pihaknya masih menunggu penjelasan dari RS BHC. Sebelumnya, rumah sakit berjanji akan menyampaikan perkembangan penanganan persoalan tersebut pada Senin (26/10/2026). Namun, hingga Jumat (30/10/2026), informasi yang dijanjikan belum diterima.

“Posisi Komisi IV DPRD Sumenep, terakhir di hari Senin (26/10/2026) kemarin itu pas RS BHC mau update perkembangan. Hingga saat ini tidak ada kabar, sampai saya pulang dari luar kota pun belum menghubungi saya lagi pihak rumah sakit itu,” kata Mulyadi, Jumat (30/10) pagi saat dikonfirmasi wartawan.

Ia menduga, kemungkinan pihak rumah sakit telah menyampaikan informasi langsung kepada Dinkes P2KB Sumenep. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan karena belum ada komunikasi lanjutan dari RS BHC.

“Mungkin RS BHC Sumenep ini langsung menginformasikan ke pihak Dinkes P2KB,” ujarnya.

Di sisi lain, perkembangan dari Dinkes P2KB Sumenep juga belum menunjukkan kejelasan. Sebelumnya, Kepala Dinkes P2KB Sumenep, drg. Elliya Fardasah, menyampaikan rencana pembentukan tim evaluasi untuk menindaklanjuti persoalan di RS BHC.

Namun, hingga pekan ketiga ini, belum ada kepastian bahwa tim tersebut telah dibentuk maupun ditugaskan untuk melakukan evaluasi ke rumah sakit.

Sekretaris Dinkes P2KB Sumenep, Moh. Nur Insan, dalam keterangannya kepada media sebelumnya, menyebut rancangan penugasan sudah dibicarakan. Hanya saja, ia tidak mengetahui apakah rencana itu telah ditetapkan melalui surat keputusan atau penunjukan resmi.