OPINI, MaduraPost - Ada kalanya seorang tokoh tidak perlu dijatuhkan oleh lawan politiknya. Cukup dikelilingi orang-orang yang salah memahami arti kesetiaan.

Mereka memuji ketika seharusnya mengingatkan, membela ketika seharusnya menjelaskan, dan menutup diri ketika publik justru membutuhkan keterbukaan.

Ironisnya, mereka mungkin merasa sedang menjaga nama baik atasannya, padahal justru berpotensi merusaknya.

MH Said Abdullah bukan nama kecil di Madura. Ia dikenal sebagai tokoh politik nasional dengan pengaruh dan jaringan yang luas.

Namun, nama besar tidak menjamin bahwa setiap lembaga yang dikaitkan dengannya terbebas dari persoalan. Sebaliknya, semakin besar nama seseorang, semakin besar pula tuntutan publik terhadap tanggung jawab orang-orang di sekelilingnya.

Polemik RS Baghraf Health Care (BHC) Sumenep memperlihatkan ironi tersebut. Kematian Moh. Firman Ramadhani, pasien berusia 22 tahun, pada 13 Oktober 2026 memunculkan pertanyaan keluarga mengenai penanganan medis yang diterimanya.

Persoalan ini kemudian berkembang menjadi sorotan publik, mulai dari tuntutan penjelasan hingga evaluasi terhadap manajemen rumah sakit.

Sidak Komisi IV DPRD Sumenep pada 22 Oktober 2026 turut menjadi perhatian, termasuk pemberitaan mengenai akses wartawan untuk meliput.

Tentu, kematian pasien tidak otomatis membuktikan adanya malapraktik. Hal itu harus ditentukan melalui pemeriksaan objektif.