Namun, ketika muncul pertanyaan serius tentang pelayanan kesehatan, respons yang dibutuhkan bukanlah sikap defensif, melainkan keterbukaan.

Keluarga korban berhak memperoleh penjelasan, sementara publik berhak mengetahui apakah persoalan tersebut ditangani secara bertanggung jawab.

Nama Said Abdullah ikut menjadi sorotan karena BHC dikenal publik memiliki keterkaitan dengannya. Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar polemik rumah sakit.

Jika Said dikenal sebagai sosok yang peduli kepada masyarakat, semestinya nilai tersebut juga tercermin dalam cara lembaga yang dikaitkan dengannya menghadapi kritik.

Jangan-jangan, persoalan terbesar Said bukanlah lawan politiknya, melainkan orang-orang yang mengaku paling setia kepadanya.

Mereka yang merasa bertugas menjaga nama besar sering terjebak dalam kesalahan yang sama, menganggap setiap kritik sebagai serangan dan setiap pertanyaan sebagai ancaman.

Akibatnya, mereka lebih sibuk mengendalikan citra daripada menyelesaikan persoalan. Mereka lupa bahwa kepercayaan publik tidak bisa dituntut hanya bermodalkan nama besar, kepercayaan harus diperoleh melalui tindakan yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam kasus BHC, keluarga korban tidak membutuhkan pembelaan berlebihan. Mereka membutuhkan penjelasan mengenai apa yang terjadi kepada anggota keluarganya.

Jika rumah sakit merasa tidak melakukan kesalahan, keterbukaan menjadi kesempatan untuk menjelaskan. Jika ditemukan kekeliruan, pihak yang bertanggung jawab harus berani mengakuinya dan menjalani proses yang semestinya.