Jika penyebab kematian belum dapat dipastikan, terangkan apa yang masih harus diperiksa dan kapan perkembangannya akan disampaikan.
Keterbukaan tidak berarti mengumbar rekam medis pasien kepada publik. Privasi keluarga harus tetap dijaga. Tetapi, perlindungan privasi juga tidak boleh dijadikan alasan untuk menutup seluruh informasi mengenai proses evaluasi dan tanggung jawab institusi.
Pada akhirnya, pertanyaan “Ke mana sebenarnya Direktur RS BHC Sumenep?” akan kehilangan relevansinya jika manajemen segera tampil memberikan penjelasan yang utuh, terbuka, dan dapat diuji.
Sebaliknya, pertanyaan itu akan terus membesar jika yang muncul hanya permintaan maaf, investigasi tanpa tenggat yang jelas, dan janji evaluasi yang belum terlaksana.
Kita tidak sedang meminta rumah sakit mengakui kesalahan sebelum fakta ditemukan. Kita juga tidak sedang menghakimi dokter, perawat, atau institusi tanpa bukti.
Kita hanya meminta sesuatu yang semestinya menjadi bagian mendasar dari pelayanan kesehatan: tanggung jawab, keterbukaan, dan kesungguhan mencari kebenaran.
Sebab, ketika seorang pasien meninggal dunia dan keluarganya masih menyimpan pertanyaan, diam bukanlah jawaban. Dan bagi lembaga yang memegang amanah pelayanan publik, membiarkan pertanyaan itu berlarut-larut justru dapat menggerus kepercayaan yang seharusnya dijaga.
Dani memang telah pergi. Namun, pertanyaan tentang penanganan medis yang diterimanya tidak boleh ikut dikubur bersama kepergiannya.***
Catatan : Jurnalis Lepas