Untuk memberikan gambaran konkret tentang keteladanan sejarah, ia kemudian mengenalkan sosok Sultan Abdurrahman, salah satu tokoh penting dalam perjalanan Keraton Sumenep.
Menurut Gus Hadi, Sultan Abdurrahman merupakan figur yang menarik karena memadukan kapasitas keilmuan seorang ulama dengan kemampuan menjalankan pemerintahan sebagai umara.
Salah satu hal yang patut dicontoh, kata dia, adalah keluasan wawasan sang sultan. Di tengah keterbatasan sarana pada masanya, Sultan Abdurrahman disebut mampu menguasai lebih dari tujuh bahasa.
Tokoh tersebut juga memiliki kedekatan dengan Thomas Stamford Raffles dan menjadi salah satu rujukan dalam penulisan buku The History of Java.
Gus Hadi menilai, kisah semacam itu seharusnya menjadi motivasi bagi pelajar masa kini. Terlebih, anak-anak sekarang memiliki dukungan fasilitas pendidikan dan akses informasi yang jauh lebih terbuka dibandingkan generasi terdahulu.
"Kalau dahulu Sultan Abdurrahman dengan fasilitas yang sangat terbatas mampu menguasai banyak bahasa dan memiliki pengetahuan luas, maka generasi sekarang dengan fasilitas pendidikan dan akses informasi yang jauh lebih lengkap seharusnya memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berkembang," ungkapnya.
Ia berharap, pembelajaran sejarah kerajaan tidak berhenti pada pengenalan nama raja maupun cerita masa lampau. Lebih dari itu, anak-anak perlu memahami nilai kepemimpinan, kecerdasan, keadilan, dan kemakmuran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai bagian dari Dewan Pengurus Pusat MAKN, Gus Hadi turut mengapresiasi langkah SDN Pangarangan 1 yang mulai memberikan ruang bagi pengembangan seni dan pelestarian kebudayaan lokal.
Ia menyatakan kesiapannya untuk mendukung berbagai inisiatif sekolah, terutama program yang berkaitan dengan adat istiadat, kebudayaan, serta peninggalan leluhur Sumenep.