Prof. Safi’ menegaskan, keberlanjutan kebudayaan sangat bergantung pada hubungan yang terjaga antara generasi tua dan generasi muda. Keterputusan antargenerasi dapat menyebabkan nilai, pengetahuan, dan tradisi kehilangan ruang pewarisan.

“Tidak mungkin kemajuan bisa diraih kalau ada keterputusan hubungan antara generasi masa lalu dengan generasi masa kini,” ungkapnya.

Selain penguatan kebudayaan, Rektor UTM juga memaparkan perkembangan institusi yang kini memasuki usia ke-25 tahun. Salah satu capaian penting adalah dibukanya Fakultas Kedokteran yang telah memulai proses pembelajaran.

Ia juga menyampaikan bahwa UTM berada di peringkat ke-41 nasional dari sekitar 4.400 perguruan tinggi di Indonesia. Sementara dalam kategori Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTN-BLU), UTM menempati posisi kelima.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi kebanggaan bagi masyarakat Bangkalan dan Madura. Keberadaan UTM bukan hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga bagian dari penguatan reputasi daerah di tingkat nasional maupun internasional.

Namun, pengembangan perguruan tinggi membutuhkan dukungan lingkungan yang memadai. Prof. Safi’ turut menyoroti kondisi akses jalan dari Jembatan Suramadu menuju kampus serta persoalan keamanan mahasiswa yang masih menjadi perhatian.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bangkalan, kepolisian, sivitas akademika, dan masyarakat dapat memperkuat sinergi untuk menciptakan lingkungan yang aman sekaligus mendukung perkembangan pendidikan.

Melalui momentum Hari Jadi ke-495 Kabupaten Bangkalan, UTM berharap kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan masyarakat semakin kuat.

Pergelaran Tera' Bulan menjadi salah satu wujud kontribusi kampus dalam menjaga identitas budaya sekaligus mendorong lahirnya generasi yang kreatif, berkarakter, dan memiliki kebanggaan terhadap daerahnya.