SUMENEP, MaduraPost - Polemik meninggalnya Moh. Firman Ramadhani alias Dani, seorang santri Pondok Pesantren Annuqayah yang menjadi pasien Rumah Sakit Baghraf Health Care (RS BHC) Sumenep, Madura, Jawa Timur, terus mendapat perhatian DPRD setempat.

Setelah Ketua Komisi IV DPRD Sumenep sebelumnya ikut bersuara, kini giliran salah satu anggotanya, H. Sami'oeddin, yang meminta persoalan tersebut segera dituntaskan.

Ia mendesak Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep segera mempertemukan pihak RS BHC dengan keluarga almarhum.

Menurut Sami'oeddin, pertemuan itu diperlukan untuk memperjelas persoalan sekaligus memastikan tidak ada informasi yang menggantung, baik bagi keluarga maupun masyarakat.

"Kalau saya sebenarnya begini, sebaiknya dan secepatnya kondisi itu Dinkes P2KB Sumenep dengan RS BHC dan keluarga korban itu dipertemukan," ujarnya, Sabtu (31/10) siang di gedung parlemen.

Ia menilai, penerimaan keluarga terhadap kepergian Dani sebagai sebuah takdir tidak lantas menghilangkan kebutuhan akan kejelasan administrasi maupun penjelasan dari pihak rumah sakit.

"Misalnya memang benar keluarga korban sudah menerima akan takdir, tapi kan harusnya minimal ada surat keterangan secara tertulis," katanya.

Politikus PKB tersebut menegaskan, DPRD Sumenep perlu mengetahui secara utuh persoalan yang terjadi sebelum mengambil langkah lebih lanjut.

Terutama mengenai alasan RS BHC Sumenep belum memberikan penjelasan resmi kepada publik terkait meninggalnya pasien berusia 22 tahun itu.