Namun, hingga Selasa pagi, upaya mendapatkan jawaban lanjutan belum membuahkan hasil. Ketika kembali dihubungi melalui sambungan telepon, Rifmi tidak merespons panggilan wartawan.

Belum adanya jawaban tersebut tentu tidak serta-merta membuktikan bahwa IDI takut atau sengaja menghindari persoalan.

Namun, ketika pertanyaan sudah diminta untuk dikirimkan dan konfirmasi lanjutan tak kunjung mendapat respons, publik wajar mempertanyakan kapan penjelasan itu akan diberikan.

Terlebih, kasus Dani bukan persoalan ringan. Pemuda asal Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, itu masuk RS BHC pada Senin, 12 Oktober 2026, dengan keluhan sakit lambung. Sehari kemudian, Selasa, 13 Oktober 2026, ia meninggal dunia.

Keluarga sebelumnya mempertanyakan penanganan medis yang diterima Dani sebelum meninggal. Sejumlah hal yang dipersoalkan keluarga membutuhkan penjelasan dan pemeriksaan objektif dari pihak berwenang.

Karena itu, keterangan dari berbagai pihak, termasuk organisasi profesi dokter, diperlukan agar persoalan tersebut tidak berkembang hanya berdasarkan dugaan.

Di sisi lain, Dinkes P2KB Sumenep juga belum memberikan tanggapan atas upaya konfirmasi MaduraPost. Sebelumnya, Dinkes P2KB Sumenep menyampaikan rencana membentuk tim investigasi terkait kasus tersebut.

Namun, ketika dihubungi kembali pada Selasa pagi melalui telepon maupun pesan WhatsApp, Kepala Dinkes P2KB Sumenep, drg. Elliya Fardasah, tersebut belum merespons permintaan keterangan wartawan.

Dua jalur konfirmasi yang diharapkan dapat menjelaskan duduk perkara itu kini sama-sama belum menghasilkan jawaban substantif.