Institusi tidak menjadi lebih kuat karena kritik berhasil diredam, melainkan karena kritik digunakan untuk menemukan kelemahan dan memperbaikinya.
Reputasi harus dibuktikan. Nama besar dapat membangun kepercayaan awal, tetapi tidak menjamin kualitas sebuah institusi. Ketika sebuah rumah sakit diasosiasikan dengan tokoh yang dikenal memiliki kepedulian sosial, masyarakat tentu berharap nilai tersebut tercermin dalam pelayanan sehari-hari.
Harapan itu bukan bukti bahwa tokoh yang bersangkutan terlibat dalam setiap keputusan rumah sakit. Namun, reputasi yang melekat pada seseorang membawa konsekuensi berupa ekspektasi publik terhadap lembaga yang dikaitkan dengannya.
Karena itu, menjaga nama baik tidak cukup dilakukan melalui pembelaan atau pernyataan mengenai karakter seseorang. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa lembaga terkait bekerja secara profesional, terbuka, dan bertanggung jawab.
Bagi Said Abdullah, persoalan ini semestinya menjadi pengingat bahwa reputasi tidak dapat dipertahankan hanya dengan mengandalkan jasa masa lalu atau dukungan orang-orang di sekitarnya.
Kepercayaan harus terus dibuktikan melalui tindakan nyata. Bagi pengelola BHC, polemik ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa profesionalisme mencakup bukan hanya pelayanan medis, tetapi juga komunikasi dan pertanggungjawaban.
Jangan biarkan duka tenggelam dalam pertarungan citra. Di tengah perdebatan mengenai nama besar dan hubungan kekuasaan, satu hal tidak boleh dilupakan, seorang anak muda telah meninggal dunia, dan keluarganya sedang mencari penjelasan.
Keluarga korban tidak boleh dijadikan alat untuk menjatuhkan seseorang. Sebaliknya, reputasi seorang tokoh juga tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi perhatian terhadap pertanyaan keluarga.
Keduanya harus ditempatkan secara proporsional, hak keluarga untuk memperoleh penjelasan harus dihormati, sementara dugaan kesalahan harus diperiksa secara objektif.