"Nggak tahu, gagal," kata Mulyadi ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada Jumat pagi.
Batalnya pengaduan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa keluarga telah berdamai dengan rumah sakit. Sebab, keluarga sebelumnya sudah menjelaskan bahwa mereka masih menunggu hasil investigasi internal dan keterangan medis.
Zainal tentu memiliki hak untuk memberikan pandangan mengenai persoalan yang berkembang di daerahnya. Namun, sebagai Ketua DPRD, setiap pernyataannya juga memiliki bobot tersendiri di hadapan publik.
Apalagi, kasus Dani bukan sekadar persoalan komunikasi antara keluarga dengan rumah sakit. Ada pertanyaan mengenai pelayanan medis, keterbukaan informasi, serta tanggung jawab institusi pelayanan kesehatan yang sampai saat ini belum memperoleh jawaban memadai.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat tentu membutuhkan penjelasan yang terang, bukan sekadar klaim bahwa persoalan sudah selesai. Nama Said Abdullah yang disebut Zainal pun menyisakan pertanyaan tersendiri.
Mengapa seorang Ketua DPRD merasa perlu menghubungkan pertanyaan mengenai RS BHC dengan kemungkinan dimarahi seorang politikus lain?
Apakah itu hanya guyonan khas percakapan politik Madura? Ataukah ada pertimbangan tertentu yang membuat nama Said muncul dalam wawancara tersebut?
Zainal belum memberikan penjelasan lebih jauh mengenai maksud ucapannya.
Pada akhirnya, yang dibutuhkan publik bukanlah siapa yang akan marah kepada siapa. Melainkan kejelasan mengenai kematian Dani dan kepastian bahwa keluarga mendapatkan haknya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.