SUMENEP, MaduraPost - Setengah bulan lebih sejak Moh. Firman Ramadhani alias Dani (22) meninggal dunia di Rumah Sakit Baghraf Health Care (RS BHC) Sumenep, Madura, Jawa Timur, sejumlah persoalan justru belum menemukan titik terang.

Mulai dari klaim perdamaian yang dibantah keluarga, janji bantuan Bupati Sumenep, hingga langkah investigasi Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) yang belum menunjukkan perkembangan.

Di tengah berbagai pernyataan yang muncul ke ruang publik, keluarga almarhum masih menunggu penjelasan mengenai penyebab kematian anak semata wayang mereka.

Senin (2/11/2026), sejumlah awak media mendatangi kediaman keluarga Dani di Dusun Samondung, Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Perjalanan menuju rumah duka bukan perkara mudah. Rombongan jurnalis harus melewati jalan sempit, berliku, dan berlubang. Bahkan, sempat tersesat ke jalan buntu ketika mencoba mencari lokasi rumah keluarga korban.

Setelah bertanya kepada sejumlah warga setempat, rombongan akhirnya menemukan kediaman keluarga Dani. Sekitar pukul 11.00 WIB, para jurnalis disambut H. Hayatullah, ayah almarhum.

Meski baru sekitar sepekan menyelesaikan operasi mata akibat katarak, H. Hayatullah atau akrab disapa H. Hayat tetap menerima kedatangan awak media.

Perbincangan berlangsung cukup panjang. Dari situlah, sejumlah cerita tentang kehidupan Dani hingga persoalan yang masih membebani keluarga mulai terungkap.

Menurut H. Hayat, putranya memiliki keinginan besar untuk melanjutkan pendidikan. Dani bahkan bercita-cita menimba ilmu ke Mesir. Semangatnya dalam belajar menjadi salah satu kenangan yang masih melekat kuat di benak keluarga.