SUMENEP, MaduraPost - Sikap tertutup Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep, drg. Ellya Fardasah, kian mempersulit kerja jurnalistik dalam mengungkap perkembangan kasus kematian pasien BPJS di Rumah Sakit Baghraf Health Care (RS BHC).

Hingga Selasa (3/11/2026), upaya wartawan untuk mendapatkan penjelasan dari kepala dinas tersebut belum membuahkan hasil. Konfirmasi melalui pesan WhatsApp tidak mendapatkan respons.

Upaya menemui yang bersangkutan secara langsung di kantornya juga belum menghasilkan keterangan yang dibutuhkan. Padahal, informasi dari Dinkes P2KB sangat penting untuk menjawab berbagai pertanyaan publik mengenai tindak lanjut evaluasi terhadap RS BHC, menyusul meninggalnya Moh. Firman Ramadhani alias Dani (22), pasien BPJS asal Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng.

Kasus tersebut bukan persoalan kecil. Dani meninggal dunia pada Selasa (13/10/2026), sehari setelah menjalani perawatan di RS BHC. Keluarga masih mempertanyakan sejumlah hal terkait penanganan medis yang diterima korban sebelum mengembuskan napas terakhir.

Di tengah pertanyaan tersebut, publik membutuhkan penjelasan dari pemerintah daerah, khususnya instansi yang memiliki kewenangan melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelayanan kesehatan.

Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, sebelumnya bahkan telah meminta Dinkes P2KB turun langsung memeriksa RS BHC.

Pernyataan itu disampaikan setelah Apel Hari Santri, Kamis (22/10/2026).

"Hari ini Dinkes P2KB Sumenep dipastikan akan bergerak, saya pastikan itu untuk mengecek ke RS BHC apa yang sebenarnya terjadi," tegas Fauzi saat itu.

Namun, pernyataan tersebut belum diikuti penjelasan terbuka mengenai hasil pemeriksaan maupun kepastian langkah evaluasi yang dilakukan dinas terkait.